13.1.13

Ebeg adalah jenis tarian rakyat yang berkembang di wilayah (Purbalingga,Banyumas,cilacap,kebumen). Pada daerah lain kesenian ini dikenal dengan nama kuda lumping atau jaran kepang, ada juga yang menamakannya jathilan (Yogyakarta) juga reog (Jawa Timur). Tarian ini menggunakan “ebeg” yaitu anyaman bambu yang dibentuk menyerupai kuda berwarna hitam atau putih dan diberi kerincingan.

Biasanya  kesenian tradisional ini digelar pada saat ada kejadian luar biasa di daerah yang bersangkutan seperti pemilihan kepala desa, pesta panen rakyat, tahun baru Islam, atau peringatan lain yang bersifat kedaerahan. Tarianyang  termasuk jenis tari massal  ini dalam sekali pementasan bisa memakan waktu kurang lebih 4-5 jam, pertunjukannya memerlukan tempat pagelaran yang cukup luas seperti lapangan atau pelataran/halaman rumah yang cukup luas.



Ebeg adalah tarian yang menggambarkan latihan perang prajurit Mataram ketika melawan Belanda. Latihan perang yang dilakukan prajurit Kasunanan setiap Sabtu itu kemudian dimodifikasi oleh seniman untuk mengobarkan semangat perlawan rakyat. Tarian yang demikian agresif dan gagah itu dipentaskan untuk membumbungkan optimisme rakyat supaya tetap semangat melawan penjajah.

Stigma kuno yang dilekatkan pada tari ebeg dapat diidentifikasi karena tiga hal. Pertama, sejak dicipta pada masa kekuasaan Mataram dan diwariskan hingga saat ini tari ebeg tidak mengalami perubahan yang bermakna. Kedua, nuansa magis yang dibangun dengan menghadirkan roh saat wuru’ mengesankan lekatnya animisme yang dianut masyarakat Jawa kuno. Ketiga, semangat memerangi penjajah sudah tidak relevan dengan semangat juang saat ini.

Namun apabila dipandang dari sudut pandang yang lain, maka akan ada sesuatu yang justru membuat kita kagum akan kebesaran dan hebatnya filosofi yang terkandung di dalamnya. Semangat Berjuang yang luar biasa dengan disertai jiwa kebersamaan yang besar, sesuatu yang sudah sangat langka sekarang ini.



Keunikan tarian ebeg disaat pagelaran adalah saat para pemain mengalami trans (kerasukan/mendem) para pemainnya biasa memakan pecahan kaca (beling) atau barang tajam lainnya, mengupas kelapa dengan gigi, makan padi dari tangkainya, dhedek (katul), bara api, dll. sehingga menunjukkan kekuatannya Satria, demikian pula pemain yang manaiki kuda kepang menggambarkan kegagahan prajurit berkuda dengan segala atraksinya. Biasanya dalam pertunjukan ebeg dilengkapi dengan atraksi barongan, penthul dan cepet. Dalam pertunjukannya, ebeg diiringi oleh gamelan yang lazim disebut bendhe.




Sayang sebenarnya mengingat bahwa kesenian tradisional semacam ini sudah jarang sekali peminatnya dan generasi penerusnya. Bahkan jika kita telusur lebih jauh kita akan terkejut bahwa mungkin akan kita temukan banyak remaja kita yang bahkan tidak tahu sama sekali kesenian yang seharusnya patut kita lestarikan ini.




Apabila kita perhatikan dengan seksama pada saat pementasan, di barisan belakang (penabuh dan sinden) sudah jarang sekali generasi muda yang terlibat di dalamnya. Hanya ada generasi terdahulu yang masih semangat berjuang mempertahankan kebudayaannya.

Suatu hal yang ironis bukan ? seharusnya dari awal bukankah kita sendiri yang wajib menjaga dan memelihara kebudayaan yang ada ? dan jangan hanya ikut bersuara serta emosi apabila kebudayaan yang tidak kita jaga pada akhirnya diambil dan diklaim orang lain ?

Mari kita introspeksi diri lagi.....







Handphone    : Nokia X6-16Gb
Location        : Bandingan, Bawang,Banjarnegara
Edit                : PS CS3

0 Comment:

Posting Komentar